ARE WE GOOD? I DON'T KNOW, YOU TELL ME.

 
 
In the beginning, I wrote to you and you wrote back. For the first time, I had something worth writing about.

Then somewhere during our correspondence I deviatedand instead of writing to you, I began writing for you. There was so much to say, things I couldn't tell you and I sensed it was important to put it down somewhere. For inherently mankind are compelled to record the greatest moments in our history (and you were mine).


I don't write to you anymore. Nor do I write for you. But I do writeand every word still aches for you. 



Lang Leav, History





SEE THE GOOD IN OTHERS



Saya pernah menggunakan kata “memesona” untuk mengungkapkan satu atau beberapa orang yang menarik secara fisik menurut saya. Padahal kata “memesona” dengan kata dasar “pesona” tidak sekadar apa yang ada di luar. Pesona berasal dari dalam diri kita dan karenanya tidak dapat kita lihat. Saya memilih untuk percaya bahwa jika pada akhirnya pesona meliputi hal-hal yang terlihat menarik dari luar, maka berlaku juga bahwa pesona mencakup hal-hal yang membuat seseorang terlihat menarik dari dalam, yaitu hatinya. Bagi saya, #MemesonaItu ketika kita mampu dan mau melihat hal-hal baik yang ada di dalam diri seseorang. Terlepas dari bagaimana rupa fisiknya, terlepas dari hal-hal tidak baik pada dirinya, termasuk kesalahan yang pernah dilakukannya. Ketika seseorang memilih untuk tidak hanya melihat dari satu sisi, tetapi mempertimbangkan alasan apa yang membuat seseorang berperilaku sebagaimana adanya mereka, dan mencoba menutupi prasangka yang telah ada dengan mengingat kebaikannya, maka ia memesona.

Saya bukan orang yang selalu dapat melihat kebaikan dalam diri orang lain. Meski saya harus katakan bahwa itu tidak mudah, saya masih berusaha untuk itu. Cara termudah yang selama ini saya lakukan adalah dengan mengingat kembali kebaikan-kebaikan yang telah seseorang lakukan kepada saya, orang lain, atau sesederhana ini: hal-hal baik yang telah atau sedang ia coba lakukan untuk dirinya sendiri.
 

Perasaan iri mungkin pernah dialami setiap orang. Rasa tidak suka yang muncul ketika kita melihat keadaan orang lain seakan selalu lebih baik daripada keadaan kita. Ketika seorang teman perempuan selalu terlihat lebih cantik dengan warna kulit yang lebih cerah, yang mungkin saja (tanpa kita tahu) dia dapatkan karena dia lebih rajin dari kita dalam hal mencuci wajah dan merawat tubuh secara teratur. Ketika seorang rekan terlihat lebih kaya dan mempu membeli barang-barang mahal, yang tanpa kita tahu bahwa ia lebih rajin menabung dari kita, lebih mampu menentukan prioritas dari kita dalam pembuatan keputusan akan benda-benda yang perlu atau tidak perlu untuk dibeli. Ketika kita melihat kehidupan orang lain di sosial media sepertinya begitu mudah dan enak, tanpa tahu kerja keras yang mereka lakukan di balik itu, yang tidak kita lihat. Terkadang kita membiarkan perasaan iri menang sehingga membuat hati kita tertutupi dari kebaikan dalam diri orang lain.
 

I used to be a bad-tempered person. Ya, bisa dibilang saya adalah orang galak, egois, dan tidak sabaran dengan nada bicara ketus dan tatapan mata tajam. Dulunya saya tidak menyadari sifat saya ini, well sebenarnya orang-orang di sekitar saya kerap memberi clue hanya saja saya tidak mau mengakuinya. Sampai akhirnya saya menyadarinya ketika saya kelas sepuluh, namun saya baru benar-benar mulai mencoba memperbaiki diri ketika saya kuliah. Waktu yang cukup lama untuk sebuah keputusan menjadi lebih baik. Saya kuliah di jurusan psikologi. Selama masa-masa kuliah, jujur saja terkadang saya merasa tersindir oleh hal-hal yang dipelajari dalam mata kuliah tertentu. (Tunggu dulu, lanjutkan membaca) misalnya ketika sedang belajar psikologi kepribadian, saya pernah merasa topik yang dibahas seakan menyindir saya ini orang seperti apa. Kemudian muncul keinginan itu; saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Saat saya merasa tidak sabaran dan berkata ketus, saya mencoba untuk lebih bersabar, tidak langsung bereaksi atas hal-hal yang menyulut amarah saya.

Ada seorang teman yang dulunya merupakan teman dekat saya, namun perlahan ia menjauh sampai sekarang akhirnya benar-benar jauh walau sedekat apapun jarak fisik kami. Itu juga karena sifat buruk saya. Awalnya saya marah padanya, namun seiring berjalannya waktu saya justru berterima kasih padanya karena telah membuat saya belajar menjadi lebih baik. Terkadang arti kehilangan bukan selalu tentang apa yang hilang, tapi apa yang kita dapat. In my case, I got a lesson.

Sampai saat ini saya masih terus berusaha. Bersabar, berbicara pelan-pelan, mencoba berpikir positif tentang diri saya dan orang lain. Atas perbuatan tidak baik orang lain, saya berusaha untuk tidak langsung menghakimi, tetapi mencoba melihat diri saya di posisi mereka. Akankah saya mampu berbuat lebih baik? Belum tentu. Saya ingin mencoba mengerti, karena seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, saya percaya selalu ada alasan. Saya ingin melihat hal-hal baik dibalik itu semua, dan saya berharap juga diperlakukan seperti itu.
 
Setiap kita adalah berbeda, even the identical twins are different. Kita hari ini adalah akumulasi dari pilihan-pilihan kita di masa lalu. Perbedaan pilihan yang kita pilih mengantarkan kita menuju pengalaman berbeda, dan karenanya membentuk kita menjadi individu yang berbeda. Alangkah indahnya jika kita mau menghargai perbedaan di antara kita, dengan terlebih dahulu memahami, melihat apa yang baik dalam buruk yang terlihat. Saya masih berusaha, dan kamu, marilah bersama berusaha untuk itu, karena ketika kamu mampu dan mau melihat hal-hal baik yang ada di dalam diri seseorang, kamu #Memesona.

 




Don't be so quick to judge others, you might have taken yourself into a slight way. You never know what kind of battle they're fighting and it might be worse than yours. They might have a fake but convincing smile, and you would never know how many wounds they have inside, how their hearts are severely broken.

- Pramita Handarini